Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efektivitas antara pembelajaran daring (online) dan luring (tatap muka) di tingkat sekolah dasar. Studi dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Negeri Semarang di tiga kabupaten berbeda di Jawa Tengah, mencakup daerah urban, semi-urban, dan rural. Fokus utama adalah untuk menilai seberapa besar dampak masing-masing metode terhadap pemahaman materi dan perkembangan keterampilan sosial siswa.
Sebanyak 600 siswa dan 90 guru dari 30 sekolah dasar dilibatkan dalam penelitian ini. Instrumen yang digunakan mencakup tes hasil belajar, kuesioner persepsi guru dan siswa, serta observasi langsung di kelas. Hasil awal menunjukkan bahwa pembelajaran luring lebih unggul dalam membentuk pemahaman kognitif dasar, terutama pada pelajaran eksakta seperti Matematika dan IPA. Pembelajaran daring, sementara itu, menunjukkan keunggulan dalam mengasah kemampuan mandiri dan literasi digital siswa.
Keterbatasan akses terhadap internet dan perangkat digital menjadi tantangan utama dalam pembelajaran daring, khususnya di wilayah rural. Banyak siswa tidak memiliki perangkat pribadi dan harus berbagi dengan anggota keluarga lain. Guru pun mengaku mengalami kesulitan dalam menyesuaikan materi ke format daring, terutama ketika harus membuat video atau bahan ajar interaktif.
Penelitian juga mengungkapkan bahwa siswa cenderung merasa terisolasi dalam pembelajaran daring. Minimnya interaksi sosial secara langsung menyebabkan turunnya motivasi dan rasa percaya diri. Hal ini berbeda dengan pembelajaran luring yang memungkinkan adanya diskusi, kerja kelompok, dan penguatan emosional dari guru. Dalam jangka panjang, interaksi sosial yang sehat menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter anak.
Beberapa sekolah telah mencoba model pembelajaran hybrid sebagai solusi, dengan menggabungkan pertemuan tatap muka terbatas dan tugas daring. Model ini dianggap paling fleksibel dan adaptif terhadap situasi pandemi maupun pascapandemi. Namun, implementasinya memerlukan panduan kurikulum yang jelas serta pelatihan guru secara berkelanjutan.
Rekomendasi utama dari penelitian ini adalah perlunya kebijakan pendidikan yang adaptif, yang tidak hanya mengandalkan satu metode, tetapi mampu mengintegrasikan berbagai pendekatan. Pemerintah juga disarankan untuk meningkatkan infrastruktur digital pendidikan serta mendukung pengembangan platform pembelajaran lokal yang lebih relevan dengan kebutuhan siswa Indonesia.
Lebih lanjut, studi lanjutan akan difokuskan pada dampak psikologis dari metode pembelajaran ini serta pengaruhnya terhadap perkembangan nilai-nilai karakter siswa. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi penting dalam menyusun arah kebijakan pendidikan nasional ke depan.





