Category Archives: Berita

PENGUMUMAN

PEMBERITAHUAN
Sehubungan dengan jadwal  Ujian PPBA yang diaksanakan pada jam 13.00 WIB, maka bersama ini kami sampaikan :

1. UAS Mata Kuliah Kimia Fisik yang sebelumnya terjadwal hari Senin, di ajukan pada : Jumat,  25 Mei 2018  Jam: 08.00 -09.15 WIB

2. UAS MK Farmasetika III yang terjadwal jam 08.00 diundur pada jam 12.30-13.20 pada hari yang sama.

3. UAS MK Metodologi Penelitian dan Statiska (Angk.2015) di pindah pada hari Senin tanggal 28 Mei 2018 jam 12.30 WIB.

Demikian, Harap Maklum.

Dosen Pembimbing PKLI 2017

Berikut Nama-nama dosen pembimbing PKLI 2017, silahkan diunduh disini

dosen pembimning 2017

Istighosah Rutin


Jumat, 17 Maret 2017 mahasiswa jurusan farmasi melaksanakan kegiatan Istighosah. Kegiatan ini secara rutinan Himpunan Jurusan Farmasi yang dilaksanakan setiap menjelang UTS dan UAS dengan harapan semua mahasiswa dapat menjalani ujian dengan lancar dan mendapatkan hasil yang terbaik.

Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung RKB setelah sholat ashar dihadiri seluruh mahasiswa farmasi dari tiap angkatan beserta para dosen. Kegiatan Istighosah ini dipimpin langsung oleh salah satu dosen farmasi yaitu Bapak Abdul Hakim.

 

Kerjasama Kajian Halal dengan ITS

Imam Sujarwo, Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan Alumni dan Kerjasama, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyatakan bahwa pentingnya tingkat kewaspadaan masyarakat terkait makanan halal ini harus ditingkatkan.

Pasalnya jika kesadaran masyarakat itu rendah, akan berbuntut panjang. Bisa jadi makanan yang diragukan kehalalannya tetap dikonsumsi Masyarakat. “Maka dari itu diperlukan edukasi terhadap masyarakat sekitar tentang urgensitas makanan halal ini,” jelas Imam saat ditemui ITS Online.

“Seperti contohnya daging yang dijual di pasaran, dengan pelabelan nama daging Sapi, Apa anda sudah yakin begitu saja bahwa yang di jual merupakan daging sapi secara keseluruhan?” tanyanya.

Tak hanya itu, di beberapa Negara maju seperti Australia serta Malaysia sudah menerapkan sistem ini. Di mana setiap jenis makanan dibedakan berdasarkan sertifikasi halalnya. Ini dapat memudahkan para konsumen untuk lebih berhati-hati dalam memilih makanan.

Tentang sertifikasi makanan halal ini sendiri membutuhkan banyak sinergi dari berbagai kalangan, entah pemerintah ataupun perguruan tinggi. Beberapa perguruan tinggi mulai sadar akan urgensitas kajian makanan halal ini. Sehingga beberapa universitas sudah mulai membentuk pusat kajian halal.

Diantaranya ialah “Institut Teknologi Bandung, Universitas Diponogoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga serta Institut Teknologi Sepuluh Nopember,” Ungkap Dr rer nat Fredy Kurniawan M Si, selaku ketua dari ITS Halal Center.

Harapan kerjasama antara ITS serta UIN Malang ini akan membuahkan hasil seperti adanya penyuluhan edukasi kepada masyarakat sekitar tentang makanan halal. Serta penelitian mendalam yang mengaji isu tentang makanan halal.

“Tidak hanya sebatas penelitian tentang makanan halal, namun kami ingin ini memiliki dampak di masyarakat seperti adanya edukasi serta pemberian informasi baik secara tertulis atau tidak,” tutur Fredy saat diwawancarai. (efa/akh)

sumber : http://old.its.ac.id/berita.php?nomer=101487

Jenis Narkotika Baru

Image result for jenis narkotika

Sehubungan dengan terdapatnya peningkatan penyalahgunaan beberapa zat baru yang memiliki potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan yang belum termasuk dalam Golongan Narkotika yang telah diatur sebelumnya dalam Lampiran I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 13 Tahun 2014 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.

Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek telah menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes/PMK) tentang Perubahan Penggolongan Narkotika No. 2 Tahun 2017 pada 5 Januari 2017, dan diberlakukan 4 hari kemudian oleh Kementrian Hukum dan HAM.

Total sebanyak 114 jenis Narkotika Golongan I, 91 jenis untuk Narkotika Golongan II, dan 15 jenis Narkotika Golongan III dirilis dalam PMK tersebut.

Berikut adalah daftar perubahan penggolongan Narkotika terbaru berdasarkan PMK No.2 Tahun 2017. Download disini

Sumber :

 farmasetika.com dan hukor.depkes.go.id

http://www.guruipa.com/2016/01/macam-macam-contoh-jenis-narkotika-beserta-gambarnya.html

Workshop KKNI 2015

Pada hari selasa tanggal 17 Maret 2015 telah disenggarakan Workshop Penyelarasan Kompetensi Sarjana Farmasi Menurut KKNI dengan mendatangkan pemateri ibu Dr. Isnaeni, Msi., Apt. dari Universitas Airlangga Surabaya . Sesuai dengan judulnya, tujuan dari workshop ini adalah penyelarasan antara dunia pendidikan dan dunia kerja menurut KKNI.3

Peserta yang hadir dalam kegiatan Workshop KKNI adalah semua dosen Farmasi Fakultas Saintek UIN MALIKI Malang, dosen perwakilan dan anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dari semua Jurusan Farmasi universitas yang ada di Malang raya.

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) adalah kerangka penjenjangan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja Indonesia yang menyandingkan, menyetarakan dan mengintegrasikan sector pendidikan dengan sector pelatihan dan pengalaman kerja dalam suatu skema pengakuan kemampua kerja yang disesuaikan dengan struktur di berbagai sector pekerjaan. KKNI merupakan perwujudan mutu dan jatidiri bangsa Indonesia terkait dengan sistem pendidikan nasional, sistem pendidikan kerja nasional serta sistem penilaian kesetaraan capaian pembelajaran (Learning Outcomes) yang bermutu dan produktif.

4

Dalam KKNI sendiri sangat menekankan pada tiga aspek yaitu skill, knowledge/pengetahuan, serta sikap/attitude. Setelah terbentuk learning outcomes atau deskriptornya, maka untuk setiap program keahlian di atas perlu dievaluasi struktur kurikulumnya sehingga hasil dari pembelajaran akan mengerucut menghasilkan learning outcomes tersebut. Hal penting yang harus diperhatikan dalam penyusunan deskriptor KKNI untuk S1 farmasi yang juga melibatkan kebutuhan dari stokeholder.

ISMAFARSI

2

Taukah kamu apa ISMAFARSI itu? Oke, ISMAFARSI, Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi, merupakan sebuah organisasi mahasiswa yang terdiri dari lembaga-lembaga kemahsiswaan  yang diikuti oleh mahasiswa farmasi se Jawa – Bali. Dan mahasiswa farmasi UIN Maliki Malang yang statusnya masih merupakan jurusan baru langsung dapat bergabung di dalam organisasi tersebut. Saat ini farmasi UIN sudah menjadi anggota ISMAFARSI  dan alhamdulillah tahun 2014 jurusan Farmasi UIN Maliki sudah bisa mengadakan LKMMF 1. Semoga kedepannya jurusan Farmasi bisa mengadakan LKMMF tahap 2 dan pesertanya tidak hanya dari mahasiswa farmasi UIN Malang saja, melainkan juga mahasiswa farmasi di universitas-universitas seJawa-Bali, amiiinnnn….^_^

Farmasi Day

1

Sanah hilwah farmasi UIN Maliki Malang, genap satu tahun usia jurusan Farmasi UIN Malang. Jurusan Farmasi yang berulang tahun bulan agustus ini merayakan ulang tahunnya dengan mengadakan istighosah. Keren banget kan…. jarang-jarang lho ada jurusan yang mengadakan istighosah waktu hari ulang tahun jurusannya, apalagi  dihadiri oleh ketua jurusan, Ibu Begum Fauziyah, S,si. M,farm. dan seluruh bapak ibu dosen. Subhanallah banget pokoknya jurusan Farmasi UIN Malang ini. Dengan diadakannya istighosah kita semua berharap semoga jurusan Farmasi kedepannya makin berkembang (kelas, lab, alat praktikum).

Farmasis sebagai Komunikator yang Baik

Pembaca yang budiman, apa sih sebenarnya peran seorang farmasis itu? Sebagian pembaca mungkin akan menjawab bahwa peran farmasis adalah meracik dan menyediakan obat. Well, sebelum kita membahas apa peran farmasis, alangkah lebih baik kita tahu terlebih dahulu siapa sih farmasis itu. Farmasis (pharmacist) atau yang biasa disebut dalam masyarakat Indonesia sebagai apoteker adalah sarjana farmasi  yang  telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.

Nah, pembaca sekarang telah tahu, siapa sebenarnya farmasis itu. Sekarang kita beralih pada peran seorang farmasis atau apoteker. Selain meracik dan menyediakan obat, apoteker berperan sebagaimana yang telah diungkapkan dalam 7 Stars of Pharmacist yang sekarang menjadi 9 Stars of Phamacist oleh World Health Organization (WHO), yakni care-giver, decision-maker, communicator, manager, leader, life long learner, teacher, research,dan enterpreneur.

Dari kesembilan peran farmasis yang diungkapkan dalam 9 Stars of Pharmacist, penulis hanya akan membahas salah satu saja dari kesembilan peran apoteker, yakni apoteker sebagai communicator. Dimana seorang apoteker dituntut harus dapat bertindak sebagai komunikator yang baik. Maksud dari pernyataan tersebut adalah ketika apoteker telah terjun di masyarakat, apoteker dapat menyampaikan informasi seputar obat kepada orang lain terutama pasien yang memerlukan informasi tersebut. Misalnya, apabila ada seorang pasien yang hendak mengambil/membeli resep di apotek, hendaknya si apoteker dapat memberikan informasi seputar obat yang ia berikan pada pasien tersebut, seperti nama obat, kegunaan obat, efek samping obat, hal-hal yang perlu dihindari ketika mengonsumsi obat, dan info yang lain yang sekiranya diperlukan oleh pasien agar si pasien tidak mendapatkan dampak negatif (misalnya keracunan) akibat salah pengonsumsian obat. Hal tersebut bisa saja terjadi apabila si pasien tidak memeroleh info yang benar terkait obat.

Begitulah pentingnya skill apoteker sebagai komunikator yang baik. Pelatihan apoteker sebagai komunikator dapat diperoleh apoteker ketika masih dalam perkuliahan. Misalnya, dalam perkuliahan farmasetika, selain diajarkan bagaimana seorang apoteker meracik obat, apoteker diajarkan pula bagaimana cara mengkomunikasikan obat dalam resep terhadap pasien. Sebagai contoh adalah mahasiswa farmasi UIN Malang 2013 yang sekarang tengah menerima matakuliah farmasetika III, dalam setiap pertemuan kuliahnya mahasiswa diwajibkan untuk mengisi form pelatihan pelayanan resep (untuk membuktikan apakah resep tersebut sudah rasional atau belum) dan latihan untuk mengkomunikasikan pelayanan resep tersebut terhadap pasien (dalam bentuk presentasi dalam kelas dan mahasiswa lain sebagai pasien). Selain melalui perkuliahan, skill sebagai komunikator yang baik dapat diperoleh ketika seorang calon sarjana farmasi melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata), dimana mereka dilatih dan diuji secara langsung dengan menempatkan mereka di tengah masyarakat.

Sebagai hasil kesepakatan WHO dengan federasi farmasi internasional di Vancouver pada tahun 1997, disepakati bahwa format pelayanan kefarmasian adalah berbasis pasien dengan prosedur yang dikenal sebagai pharmaceutical care. Format baru ini berdampak pada peran apoteker terhadap pasien, dengan demikian peran apoteker sebagai communicator sangat diperlukan untuk menunjang kualitas apoteker yang baik. Untuk mendukung hal tersebut, didirikan PIO (Pelayanan Informasi Obat) dimana apoteker aktif memberikan informasi seputar obat terhadap masyarakat yang dapat mengurangi risiko iatrogenic disease, yakni penyakit yang timbul akibat pengonsumsian obat.

Dhadhang (2010) menyatakan bahwa terdapat dua komunikasi apoteker dalam pemberian info terhadap pasien, yakni komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Dimana komunikasi verbal mengacu pada tanya jawab antara apoteker dan pasien baik secara tertulis maupun tidak tertulis (akan lebih baik jika keduanya). Ketika apoteker berkomunikasi dengan pasien, apoteker harus mencoba menciptakan suasana yang tenang dan santai. Di sini pentingnya skill  apoteker sebagai komunikator untuk menciptakan suasana yang nyaman ketika terjadi komunikasi kepada pasien, sehingga pasien dapat menyerap informasi dengan baik. Selain komunikasi verbal, terdapat komunikasi nonverbal, yakni apoteker harus senantiasa memperhatikan berbagai tanda nonverbal, seperti tanda cemas, marah, atau malu. Banyak studi menunjukkan bahwa komunikasi nonverbal sama pentingnya dengan komunikasi verbal. Buruknya hubungan apoteker dengan pasien merupakan hasil dari komunikasi nonverbal yang buruk. Terdapat data yang menyatakan bahwa ketidakpatuhan terjadi pada 30% sampai 50% dari pasien yang menerima obat. Penyebabnya kegagalan pengobatan yang demikian adalah multifokus dan dapat berkisar dari kurangnya edukasi, terkait dengan terapi sampai pada hambatan finansial yang menghalangi pengadaan obat.

Studi tambahan sudah menunjukkan bahwa intervensi oleh apoteker, menggunakan konseling lisan dan tertulis pada permulaan terapi obat, menghasilkan perbaikan yang signifikan dalam kepatuhan pasien. Studi ini juga menujukkan betapa pentingnya konseling dan edukasi terhadap pasien yang berkesinambungan di luar pertemuan awal, yang tentunya konseling dan edukasi yang baik dapat diperoleh melalui komunikasi antara apoteker dan pasien secara baik.

Nah, kiranya pembaca yang budiman, terutama calon farmasis atau apoteker sekarang paham betapa pentingnya komunikasi dalam dunia medis, khususnya dalam dunia apoteker. Betapa banyaknya manfaat yang diperoleh ketika apoteker dapat menyampaikan informasi terkait obat dengan baik, sehingga berdampak positif terhadap pasien. (A. Yuliandari)

 Sumber:

Kurniawan, Dhadhang Wahyu dan Lutfi Chabib. 2010. Pelayanan Informasi Obat – Teori dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

http://ilmu-kefarmasian.blogspot.com/2013/06/9-stars-of-pharmacist.html

Pemberitahuan Pengambilan Ijazah dan Transkrip berbahasa Arab dan Inggris

Surat nomor : Un.03/PP.00.9/92/2015 tentang Pemberitahuan Pengambilan Ijazah dan Transkrip berbahasa Arab dan Inggris (bagi lulusan pada wisuda tanggal 18 Oktober 2014) dapat didowload di sini